Jadi inget ketika pertama kali melaksanakan PKL di tahun 2012 pada salah satu perusahaan BUMN, dulu saya sering merasa kesal dengan para pekerja yang sepertinya tidak mau tahu tentang segala hal yang membuat mereka merasa ribet. Bahkan sekedar untuk mengkoneksikan perangkat bluetooth saja, mereka meminta bantuan kami yang sedang PKL saat itu, dan hal tersebut tidak terjadi dalam sekali dua kali.

Tumbuh besar mengikuti berkembangnya zaman membuat saya tertarik dengan berbagai macam perkembangan teknologi yang ada, sejak SD pun tangan saya sudah usil mengotak-atik shortcut pada sistem operasi berbasis Windows. Hal yang diawali oleh keusilan tersebut sekarang menjadi sebuah hobi yang bisa dibilang “nerd” bagi orang awam, misalnya seperti:

  • Mengoprek sistem operasi android dengan berbagai custom ROM
  • Kegemaran saya dalam konfigurasi headless server untuk meng-host sebuah website menggunakan sistem operasi berbasis Linux.
  • Kegemaran bongkar pasang perangkat keras a.k.a rakit PC
  • Nge-develope website ala-ala
  • dan lain-lain

Dari beberapa hobi diatas, hobi headless server dan mengoprek smartphone lah yang akhirnya membuat saya berfikir “eh, kok jadi mager ya?” ha ha ha.

Hobi Oprek Smartphone

Terakhir kali saya mengoprek sistem operasi pada smartphone saya itu 3 tahun yang lalu, dimana saat itu smartphone yang saya gunakan masih Redmi 3 Pro. Alasan yang mendasari saya untuk mengoprek sistem operasi pada smartphone ini adalah karena saya tidak terlalu menyukai UI bawaan dari xiaomi itu sendiri yaitu MIUI. Selain itu juga karena banyak aplikasi bawaan atau aplikasi sponsor yang malah bikin device dengan RAM berkapasitas 3 GB ini menjadi tidak nyaman digunakan.

Kemudian, setelah saya mengganti daily driver saya tersebut dengan Realme 5 pro, saya pun akhirnya mengakhiri hobi oprek tersebut karena saya sudah cukup nyaman dengan UI yang diberikan, sehingga tidak perlu lagi ganti dengan Custom Rom. Bahkan, sekarang Realme 5 pro tersebut sudah saya berikan ke Ibu saya untuk menggantikan device-nya yang sudah sangat outdated.

Alasan saya memutuskan untuk berhenti mengoprek sistem operasi Android juga karena saya tidak mau “lagi” mengambil resiko jika ternyata device tersebut error, selain itu saya juga dihantui oleh rasa malas untuk menyelami forum-forum hanya untuk mengunduh berbagai macam berkas untuk keperluan proses oprek tersebut, belum lagi jika ternyata error dan harus membawanya ke service center yang pasti akan memakan banyak waktu, iuuhh.

Hobi Oprek Server

Lalu, hobi terakhir yang membuat saya merasa ribet adalah hobi konfigurasi headless server. Hal yang membuat saya lebih memilih untuk meng-hosting website saya disana dibanding membeli cloud hosting adalah karena harga untuk menyewa headless server cukup murah yaitu USD $6 perbulan (Vultr.com), lebih murah 40% jika dibandingkan dengan harga cloud hosting yang berkisar USD $10 perbulan (Hostinger.com), bahkan harga tersebut hanya bisa Anda dapatkan jika menyewa hosting selama setahun, inget ya itu setahun bukan perbulan.

Dulu saya beranggapan, tidak masalah menuliskan baris demi baris perintah Linux untuk memasang komponen yang diperlukan dalam membangun website hosting (Lemp Stack), tidak masalah menuliskan lagi baris demi baris perintah untuk melakukan backup & restore jika terjadi masalah pada website (di-hack), yang terpenting saya bisa mendapatkan mesin yang handal, harga yang murah, dan bandwith yang sangat besar dibandingkan dengan cloud hosting.

Diawal-awal konfigurasi server mungkin saya masih bisa santai dan menikmati proses dari hobi saya tersebut, tapi ketika websitenya sudah berjalan selama setahun, kemudian tiba-tiba di hack oleh orang iseng, sedangkan saya lupa melakukan backup website sebelumnya. Memikirkan lagi momen-momen dimana saya harus menjalankan baris demi baris perintah yang cukup panjang untuk memperbaiki masalah yang saya alami tersebut benar-benar membuat saya malas gerak.

Akhirnya, tepat diakhir bulan lalu saya memindahkan website saya ke cloud hosting milik Siteground. Toh kalau dipikir-pikir, harga yang saya keluarkan untuk menyewa hosting tersebut selama setahun tidak jauh berbeda dengan biaya yang akan saya keluarkan jika masih lanjut menyewa server di Vultr. Bahkan tahun ini harga yang saya keluarkan untuk menyewa server bisa lebih murah karena patungan dengan teman saya, shout out to Afuza (if you read this) hehe.

Ada yang gampang kok pilih yang ribet?

Alasan dulu suka milih yang ribet tidak saya pungkiri juga karena harga layanan/produk yang biasanya lebih murah, ambil contoh saja layanan streaming yang ada seperti Netflix, Vidio, Viu, Disney+, dll. Mereka memiliki harga layanan yang bervariasi mulai dari 30 ribu rupiah hingga 180 ribu rupiah perbulannya. Mereka ada tentu saja karena banyaknya permintaan dari orang yang mencari kemudahan, daripada harus ribet mengunduh atau streaming film di situs ilegal.

Mungkin secara tidak sadar saya sudah menganut konsep value time over money, seperti quotes

Time is more valuable than money. You can get more money, but you cannot get more time.

Jim Rohn

Tapi bukan berarti karena banyak uang, lalu kita bisa seenaknya membeli semua hal yang bisa memudahkan kita ya, eh tapi sebenernya sih bisa aja selama kita yakin uang tidak akan habis sampai 7 turunan.

Hal ribet yang belum bisa ditinggalkan

Dipikir-pikir, saya nggak meninggalkan semua hal yang ribet dan menggantinya dengan beragam solusi yang memudahkan. Masih ada beberapa hal ribet yang tidak bisa saya tinggalkan karena saya masih menikmati setiap detik prosesnya, misalnya seperti:

  • Hobi bongkar pasang PC/Laptop
  • Ngoding website ala-ala
  • Design web
  • Menulis copywriting

Toh jika pun hal tersebut bisa dimudahkan dengan mengeluarkan uang, tidak akan terlalu worth it. Karena saya masih bisa melakukannya sendiri dengan jarak waktu yang juga tidak terlalu lama.

Kesimpulan

Saya tidak tahu apakah saya masih bisa dibilang Nerd guy, Tech guy, atau Tech geek. Tapi yang pasti saya masih menjadi orang yang menyukai dan mengikuti perkembangan teknologi, dan memilih untuk menggunakannya seefisien mungkin.