Dulu tepatnya pada tahun 2016 adalah pertama kali saya belajar digital marketing, belum banyak channel marketing yang saya jalankan saat itu, paling hanya paid ads, seo, dan email marketing saja. Itu pun saya merasa sudah cukup banyak tugas yang harus saya kerjaan setiap harinya untuk mengeksekusi strategi digital marketing yang saya buat.

Mendengar kata paid ads, mungkin yang terbesit di pikiran Anda pertama kali “paling juga nggak jauh-jauh dari iklan di Instagram, Facebook, atau Google”. Ya memang benar, memegang projek paid ads berarti kita harus membuat strategi pemasaran ke berbagai macam platform paid ads. Tetapi, membuat kampanye iklan itu nggak sesimpel “sim salabim jadi iklan, prok prok prok”.

Mari saya coba perjelas persulit proses menjalankan channel marketing ini. Sebelum kita masuk ke inti cerita dari tulisan ini yaitu, kenapa mempelajari full stack digital marketing itu penting, tapi tidak untuk pekerjaan? boleh disiapkan dulu minum biar nggak haus ya.

Lanjut..

Paid ads, seo, dan email marketing sederhananya adalah 3 contoh dari sekian banyaknya channel pada Digital Marketing, tugas kita adalah mencoba menjalankan berbagai macam kampanye pemasaran pada beberapa channel marketing tersebut untuk menentukan mana strategi digital marketing yang cocok untuk model bisnis yang sedang kita jalankan.

Sampe sini paham ya? oke, lalu untuk menjalankan kampanye pemasaran itu kita perlu tahu dulu komponen yang perlu dipersiapkan, apa saja?

Komponen Kampanye Pemasaran

IMHO, untuk menjalankan kampanye pemasaran baik di paid ads, seo, email marketing, maupun channel marketing yang lain kita perlu mempersiapkan 3 komponen pada kampanye pemasaran yaitu pengguna, produk/penawaran, dan juga kreatif.

Pengguna/Prospek

Pengguna (Audience) adalah target pasar yang harus anda tentukan sebelum mulai menjalankan kampanye pemasaran, karena kalau Anda sendiri tidak tahu kepada siapa Anda harus memasarkan produk Anda, bagaimana produk Anda bisa terjual bukan?

Beberapa channel marketing seperti paid ads biasanya sudah menyediakan kita daftar pengguna mereka untuk kita target pada kampanye pemasaran kita, tinggal kitanya saja yang menentukan mau seperti apa karakter pengguna yang tepat untuk produk kita, misalnya seperti tinggi, agak gemuk, pinter, yang ganteng, loh?

Kita bisa menentukan karakter pengguna yang tepat misalnya dengan menentukan umur, wilayah, minat, kebiasan, bahkan Anda bisa menarget pengguna berdasarkan penempatan seperti Instagram story, short, atau feed. Dulu bahkan kita bisa menarget pengguna OS loh, tapi sejak Apple menyerang dengan segudang kebijakan privacy mereka, pengguna iOS jadi susah buat ditarget (bukan berarti gak bisa).

Jadi sudah sadar kan sekarang, saat Anda ditanya alamat, umur, jenis kelamin, dll ketika mendaftarkan akun sosial media artinya apa? ya benar..

Anda termasuk saya adalah pengguna yang datanya diperjual belikan kepada para Advertiser ha ha ha (Mark Zuckerberg with evil laugh).

Lanjut ya..

Tapi selain itu ada juga channel marketing yang harus kitanya sendiri yang menyediakan list pengguna, misalnya seperti email marketing.

Ada 3 fase pengguna dalam kampanye pemasaran:

  1. Awareness, ini adalah fase ketika kita memberikan penawaran kepada orang/target pasar kita. Di fase ini biasanya pengguna akan lebih banyak bertanya-tanya tentang merek dagang ataupun produk Anda.
  2. Consideration, fase ketika pengguna mulai menimbang-nimbang apakah produk Anda worth it untuk dibeli atau tidak, dengan menganalisa apakah produk/tawaran Anda akan menyelesaikan masalah yang mereka miliki.
  3. Decision, fase ketika pengguna sudah selesai menimbang-nimbang produk Anda dan mulai memutuskan untuk beli atau tidak.

Nah orang kaya saya ini (performance marketing specialist), yang biasanya ngurusin targeting ini guys.

Produk

Produk adalah barang/jasa yang ingin anda tawarkan kepada pengguna/prospek. Jadi, sudah tentu wajib bagi para bisnis owner untuk memikirkan barang/jasa seperti apa yang menarik minat orang untuk membeli.

Ngomong-ngomong disclaimer on ya, ilmu saya mengenai produk ini masih cetek, kalau ilmu produk saya bagus, saya yang sekarang bukan jadi performance marketing specialist ya, melainkan product manager.

Tapi intinya, PRODUK itu harus menarik, biar menarik juga harus ada Unique Selling Point (faktor pembeda) dari produk-produk yang sudah ada dipasaran.

Kreatif

Nah komponen terakhir ada kreatif, yaitu seni dari kampanye pemasaran. Kreatif itu nggak melulu tentang disain, disain, disain, ya guys ya. Tapi termasuk didalamnya copywriting, landing page, headline, call to action, video, dan juga animasi, bahkan sekarang juga ada 3D modelling dan VR (shock in full stack digital marketing).

Nah, bagian-bagian dari kreatif itu tadi normalnya nggak dikerjakan sama satu orang saja. Biasanya dibagi seperti ini:

  • Copywriter, memegang peran untuk membuat copywriting, headline, cta, dan content writing.
  • Visual, memegang peran untuk merekayasa gambar, video, animasi, dan sekarang nambah lagi 3D modelling dan VR.

ITU PUN, biasanya copywriter dan content writer udah beda orang yang ngerjain guys. Termasuk visual editor, video editor, UI/UX designer, 3d modeler, dll. Sama halnya seperti dokter umum, beda dengan dokter yang memiliki spesialisasi tertentu seperti kulit, mata, kandungan dll.

Nah tapi yang mengambil spesialisasi ini sepak terjangnya udah jauh, bukan di level pemula lagi.

Supply & Demand

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, digital marketing itu cakupannya sangat luas, harusnya sih ngga bisa lagi dibilang specialist.

Karena nggak ada spesialis-spesialisnya dari digital marketing kalau Anda mengerjakan 3 komponen marketing tadi secara bersamaan, apalagi diberbagai macam channel marketing.

Arie

Tapi ya udah seperti hukum supply & demand (ada barang ada permintaan), kita nggak akan bisa protes jika masih banyak perusahaan rintisan yang memasang loker digital marketing berkedok full stack kalau ternyata masih ada calon pekerja yang nerima-nerima aja.

Yah, balik lagi namanya juga rezeki ya guys. Kita ga akan bisa mengerti jika tidak berada diposisi orang yang membutuhkan pekerjaan, dan itu berlaku juga untuk full stack digital marketing, dan full stack apapun itu.

Alasan kenapa jangan kerja full stack digital marketing

Disclaimer on, ini pendapat saya pribadi ya guys ya. Pendapat saya ini tercipta berdasarkan pengalaman, membaca, dan tukar pendapat yang saya dapatkan dari lingkungan yang saya tempati selama ini. Saya sama sekali tidak memaksakan, dan membenarkan opini saya ini, karena opini orang pasti beda-beda.

Lanjut..

Jangan kerja full stack digital marketing, kalau Anda;

Sudah memiliki pengalaman minimal 2 tahun

Banting tulang, under pressure, multitasking, yang harus dihadapi siang dan malam selama Anda mengemban tugas sebagai full stack digital marketing sudah bisa dihentikan. Karena sekali lagi, imho pengalaman 2 tahun mengemban tugas full stack digital marketing itu udah cukup untuk membuat pondasi digital marketing untuk Anda sendiri.

Sama halnya seperti ketika 2 tahun Anda kuliah (bagi yang kuliah), pasti sudah disuruh untuk mulai menentukan minat jurusan Anda mau kemana.

Coba mulai telusuri dibagian mana minat Anda dalam digital marketing, data analysis kah, visual designer, copywriter, atau yang lain? Coba asah kemampuan spesialis yang Anda gemari tersebut.

Tidak berencana untuk merintis bisnis Anda sendiri/Freelance

Full stack digital marketing itu penting kalau Anda memang berencana untuk membangun bisnis Anda sendiri, dengan cara mulai dari awal. Biasanya orang yang membangun karirnya seperti ini disebut sebagai Digital Marketer.

Dimana Anda harus berfikir sebagai seorang product manager untuk menentukan produk yang tepat dan target pasar, Anda harus berfikir sebagai seorang data analyst untuk mengacu berdasarkan data yang sudah ada sebelum mengeksekusi strategi, berfikir sebagai visual designer dan copywriter untuk menentukan kreatif yang bagus, dan terakhir mengeksekusi selayaknya performance marketing specialist untuk memasarkan kampanye Anda secara online, dan masih banyak lagi.

Tidak berencana menjadi manager Digital Marketing.

Kalau Anda menekuni digital marketing, Anda berarti sedang menekuni pekerjaan sebagai generalist. Jika spesialist adalah huruf T, maka generalist adalah huruf M ( ITI ). Tentu untuk menjadi generalist yang kompeten, Anda juga harus kompeten pada masing-masing specialist.

Nah dari sinilah biasanya seseorang ditunjuk untuk mengemban tugas sebagai seorang manager, karena kapabilitasnya yang mencakupi seluruh bidang dibawah Digital Marketing.

Kesimpulan

Menjalani pekerjaan sebagai full stack digital marketing itu memang sangat berat, belum lagi dipengaruhi oleh faktor gaji, tekanan pekerjaan, dan lingkungan. Untuk itu, mempelajari ilmu Digital Marketing itu memang penting, tapi kalau untuk dipakai kerja sebagai full stack sih sebaiknya jangan.